logo

Written by Penulis on . Hits: 166

MASJID KANJENG JIMAT NGANJUK

(Drs. H. AHMAD FANANI, M.H*)

 

10592881 320665081429076 7661814257528555471 n

 

            Suatu ketika aku merasa penasaran dengan informasi teman tentang adanya Masjid tertua di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur tempat kerjaku . waktu itu. Mengobati rasa penasaran itu aku mencoba menelusuri keberadaan masjid tersebut dan berniat shalat sunat di sana. Dalam durasi waktu yang tidak terlalu lama aku sampai menuju lokasi. Dari ibu kota kabupaten berjarak sekitar 8 Km dan posisinya berada di Kecamatan Brebek. Posisi tepatnya terletak di Jl. Mayjen Supeno No.76 Desa Ngrawen Kecamatan Berbek, arah selatan kota Nganjuk, berdampingan dengan Kantor Urusan Agama Kecamatan Brebek.

             Masjid ini bernama Masjid Al-Mubarok selain salah satu masjid tertua juga bersejarah. Masjid ini disebut pula dengan Masjid Yoni Al-Mubarok karena di halaman Masjid ini terdapat Yoni Kuno (salah satu kelengkapan upacara Hindu Kuno) yang kemudian diubah menjadi sebuah jam matahari sebagai penunjuk waktu shalat. Menurut penuturan warga Nganjuk, masjid ini juga seringkali orang menyebutnya “Masjid Kanjeng Jimat” merujuk kepada nama pendirinya.

              Dalam buku “Nganjuk dan Sejarahnya” tulisan Drs.Harimantidjo, bangunan masjid ini termasuk di antara bangunan kuno yang ada di Kabupaten Nganjuk. Masjid Al-Mubarok didirikan tahun 1745 (jika sekarang tahun 2021 berarti sudah berusia 276 tahun). Pendirinya Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosro Koesoemo atau Kanjeng Jimat, Adipati Berbek pertama yang ditunjuk oleh Kraton Yogyakarta. Beliau pengajar agama yang berkuasa di daerah ini pada saat hampir seluruh penduduknya masih memeluk agama Hindu dari era kekuasaan Majapahit di kaki gunung Wilis.

              Penduduk lereng gunung Wilis yang sangat mempercayai agama peninggalan raja-raja terdahulu dan masih asing dengan agama Islam. Kepercayaan terhadap agama nenek moyang sangata kental. Mereka lebih percaya kepada ajaran Hindu yang sudah mendarah daging. Namun upaya sang adipati pada akhirnya membuahkan hasil hampir seluruh rakyat memeluk Islam.

              Pada tahun 1745, Kanjeng Jimat mewakafkan sebidang tanah pekarangan miliknya yang dulu menjadi tempat peribadatan para pendahulunya untuk didirikan sebuah Masjid yang kemudian diberi nama Masjid Al-Mubarok di wilayah kadipaten Berbek (kini menjadi Kabupaten Nganjuk). Sedangkan untuk rakyatnya yang tetap bersikukuh pada keyakinannya memeluk Hindu, Sang Adipati membuka lahan di lereng gunung Wilis sebelah sisi timur untuk memberikan hak hidup dan menjalankan ibadah bagi penduduk Hindu itu, tempat itu kini dikenal sebagai Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

              Masjid Al-Mubarok yang kontruksi bangunan utamanya dari kayu jati, untuk atap antara usuk dan reng tanpa paku tapi dinagel. Pada saat pertama kali didirikan atapnya terdiri dari ijuk dan lantainya berupa katel (radukan tanah liat dan kapur). Masjid ini hingga kini masih menyimpan peninggalan bersejarah di kompleksnya. Terdapat benda-benda bersejarah berupa batu Yoni, batu Asah dan Lingga. Adanya benda-benda ini menunjukkan bahwa dulunya di tempat itu adalah tempat ibadah agama para pendahulu Sang Adipati. Benda-benda itu masih ada dan bisa dilihat serta terpelihara sebagai bukti sejarah.

              Beberapa ornamen bersejarah lainnya di masjid ini masih nampak di antaranya  mimbar dari kayu jati berukir dibuat tahun 1758. Bedug indah tahun 1759. Plncang bedug dibuat tahun 1760. Atap masjid dari ijuk tahun 1760 yang pada akhirnya diganti sirap dan setelah renovasi diganti genteng. Di halaman depan terdapat yoni yang sekarang difungsikan sebagai tempat untuk melihat dan menentukan waktu sholat. Di area masjid terdapat kompleks makam kuno Kanjeng Jimat yang selalu ramai dikunjungi peziarah utamanya malam Jum’at Legi. Pada sisi kiri dan kanan Mihrab, terdapat Condro Kolo (tulisan yang menunjukkan watak bilangan) berbunyi "Adege Mesjid ing Toya Mirah" dengan Sengkalan "Toto Caturing Pandito Hamadangi" yang berarti berdirinya Masjid di tanah ini tahun 1745.

              Lebih lanjut menurut Harimantidjo, masjid ini telah mengalami pemugaran dan penambahan bangunan. Tahun 1950 oleh KH.Dahlan (Penghulu Kabupaten Nganjuk) semula temboknya belum diplester lalu diperbaiki dan diplester, lantainya ditegel dan atapnya yang semula sirap diganti genteng. Pada tahun 1986 diadakan pemugaran bangunan meliputi ruang induk 14 x 13,5 M, serambi I ukuran 14 x 9,5 M dan serambi II ukuran 14 x 5 M. Penambahan bangunan baru meliputi menara adzan setinggi 10 M, tempat wudhu 10 x 3 M dan pagar depan sepanjang 35 M.

             Seperti halnya tempat-tempat religi bersejarah yang lain, Masjid Al-Mubarok sebagai tempat wisata religi selalu diserbu para jamaah, baik dari Nganjuk sendiri maupun dari luar kota. Mereka berbondong-bondong berziarah ke makam Kanjeng Jimat yang ada di komplek Masjid, lalu berdzikir dan berdo'a di Masjid.

               Berdasarkan penuturan penduduk Nganjuk, motivasi peziarah yang rela dari jauh mendatangi masjid ini selain ingin melihat langsung keunikannya, juga merasa ada kepuasan batin tersendiri ketika shalat dan berdo’a di dalamnya. Shalat terasa lebih khusyu’, hati menjadi tenteram dan do’a yang dipanjatkan penuh keikhlasan cepat terkabulkan. Mereka datang membawa berbagai hajat dengan keyakinan hanya Allah SWT yang akan menunaikannya ketika berdo’a di tempat itu. Masjid itu diyakini sebagai tempat suci yang memiliki keberkahan.

             Ada cerita unik beredar dari mulut ke mulut tentang Masjid yang didirikan Kanjeng Jimat Sosrokoesoemo ini. Pernah suatu ketika bedug yang ada di Masjid Al-Mubarok oleh pemerintah dipindahkan ke Masjid Jami' Nganjuk (Masjid Baitussalam) untuk menambah keindahan masjid kota. Namun keesokan harinya, tiba-tiba bedug itu kembali berpindah dengan sendirinya ke tempat semula Masjid Al-Mubarok.

              Setelah melihat unik dan antiknya masjid ini serta mengingat sejarah berdirinya, dapatlah sebuah renungan. Gairah agar tumbuh di hati untuk senantiasa mencintai masjid di mana saja dan kapan saja. Gemar dan senang pergi ke masjid. Suka mengerjakan shalat berjamaah untuk merapatkan barisan dalam rangka menjalin persatuan umat. Terpaut selalu hati seorang muslim untuk membangun atau memakmurkan masjid. Menjadikan masjid sebagai sarana dakwah dan media mendekatkan diri kepada Allah seraya mengundang rahmat dan kasih sayang-Nya.

                Betapa semangat orang terdahulu menghadirkan masjid di tengah masyarakat yang tidak mengenal Islam. Sehingga dengan kehadiran masjid orang bisa kenal Islam dan dekat dengan Allah. Semoga tidak terbalik dengan zaman sekarang. Di tengah masyarakat yang banyak mengenal Islam, masjid ada di mana-mana tetapi malas hadir ke masjid sehingga jauh dan semakin jauh dengan Allah. Na’udzu billaah.

 

*Mantan Ketua Pengadilan Agama Nganjuk

Hubungi Kami

Pengadilan Agama Nganjuk

Jl. Gatot Subroto - Nganjuk

No Telp : 0358-323744

Email Umum:

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Email Tabayun:

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Media Sosial:

Asset 4 Asset 2 Asset 5